Kompas, Mengapa Oh… Mengapa?



Kompas UpdateMengapa? Saya tidak mengerti. Hari jumat yang lalu, Kompas meluncurkan Kompas Update. Dijual dengan harga Rp. 1.000, koran yang dibuat sebagai percobaan dengan maksud melaporkan breaking news yang terjadi pada dini hari, tetapi tidak sempat dimuat dalam Kopas terbitan biasa. Yang jelas, semakin banyak pula iklan yang dimuat di kedua Kompas ini.

Secara pribadi, saya memprediksi Kompas Update ini tidak akan bertahan lama. Mengapa? Pertama, koran nasional di Indonesia sudah banyak sekali, belum lagi koran lokal yang diterbitkan oleh kota besar masing-masing. Kedua, semua berita yang tidak sempat terbit di koran pagi, pasti akan disiarkan oleh berita malam di TV dan pula kita bisa membaca latar belakannya serta berbagai opini di terbitan keesokkan harinya dalam harian Kompas biasa. Jadi apa keuntungan yang sebenarnya, apakah untuk keuntungan pembaca atau sebagai tabir mencari uang pada pemasangan iklan yang didapat dari pemasang iklan?

Koran Gratis

Jika Kompas ingin menjaring pembaca yang biasanya tidak membeli koran, mengapa tidak disebarkan secara gratis saja, seperti koran gratisan yang sering di bagikan di stasiun bis dan stasiun kereta maupun di tempat-tempat umum dimana pembaca sering berkumpul untuk bersantai atau menghabiskan waktu luang? Kalau koran yang banyak iklannya tersebut dibagikan secara gratis sih tidak mengapa, secara pribadi pun saya tidak berkeberatan sama sekali, namanya juga gratisan. Koran gratis seperti Metro cukup sukses di luar negeri.

Atau, jika Kompas memang mempunyai ide untuk membuat koran terbitan baru, mengapa tidak meluncurkan koran baru yang lebih edukatif dan dapat diadaptasi oleh anak-anak yang berumur mulai 10 sampai 16 tahun misalnya.

Namun yang penting, Kompas Update menunjukkan komitmen sebagai surat kabar, bukan berita online.

  • Mengapa tidak mengembangkan situs dan konten di Kompas Cyber Media (KCM) saja?
  • Mengapa tidak membuat versi online mobile situs KCM?
  • Mengapa tidak ada layanan RSS (Really Simple Syndication) dari Kompas?
  • Mengapa tidak menyediakan versi PDF di halaman muka KCM? Seperti contohnya situs online Sriwijaya Post.
  • Mengapa Kompas tidak memperbaiki iklan banner yang ada di situs KCM? Iklan yang terlalu banyak dan keliatan bertumpuk membuat pusing pembaca online.

Mengapa tidak atau mungkin sudah terencana namun belum sempat terlaksana?

Gambar dari blogombal dan Sam LeVan.


Print Posts

2 Comments

  1. david
    Posted January 19, 2008 at 2:48 am | Permalink

    menurut saya kompas melakukan hal yang benar dengan menjual kompas update rp.1000, karena:
    - memberi lapangan pekerjaan
    - untuk saya yang dompetnya pas2an ngga perlu beli edisi pagi, lagipula ngga sempet bacanya.
    biasa baca koran sore. kalo di kantor paling baca via rss reader (berita antara)

    piss bro!

  2. Posted January 19, 2008 at 8:26 am | Permalink

    iya, kenapa, kenapa, kenapa? yang gratis aja belum tentu kebaca oleh orang sibuk… :D

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*